Silahkan Klik

Sabtu, 10 Maret 2012

Ketrampilan Dasar Mengajar


1.      Keterampilan Bertanya (Questioning Skills)
Dalam proses belajar-mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a.       meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar,
b.      membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan,
c.       mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya,
d.      menuntut proses berpikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik,
e.       memustakan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.

  1. Dasar-dasar Pertanyaan yang Baik
1.      Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
2.      Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
3.      Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
4.      Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan.
5.      Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
6.      Berikan respons yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siswa untuk menjawab atau bertanya.
7.      Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

  1. Jenis-jenis Pertanyaan yang Baik
1.      Jenis pertanyaan menurut maksudnya
a.      Pertanyaan permintaan (compliance question) (menghendaki siswa agar mematuhi perintah yg diucap dlm bentuk pertanyaan. Contoh: dapatkah kamu tenang agar suara bapak dapat kalian dengar)
b.      Pertanyaan retoris (rhetorical question) (pertanyaan yg tdk menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru. Contoh: mengapa observasi diperlukan sebelum PPL. Guru menjawab......)
c.       Pertanyaan mengarahkan untuk menuntun (prompting question) (memberi arah dalam proses berpikir  murid dg maksud agar siswa memperhatikan dg seksama bagian ttt yg dianggap penting. Di sisi lain bila murid salah menjawab atau tdk bisa menjawab guru dapat mengajukan pertanyaan yg menuntun proses berpikir siswa shg siswa menemukan jawaban)
d.      Pertanyaan menggali (probing question)(pertanyaan lanjutan yg akan mendorong murid utk lebih mendalami jawaban atas pertanyaan pertama, dg maksud meningkatkan kualitas dan kuantitas jawaban yg diberikan)

2.      Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom
a.       Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowledge question) (pertanyaan yg mengarah kpd ingatan dg menggunakan kata-kata : apa, di mana, kapan, siapa, dan sebutkan) 
b.      Pertanyaan pemahaman (comprehension question) (menghendaki pemahaman dg kata-kata sendiri. Spt : jelaskan, uraikan, dan bandingkan)
c.       Pertanyaan penerapan (aplication question) (menghendaki jawaban jawaban utk menerapkan pengetahuan atau informasi yg diterima. Contoh : berdasarkan proses tersebut, kesimpulan apa yg dapat anda berikan)
d.      Pertanyaan sintesis (synthesis question)(menghendaki jawab benar dan tdk tunggal, tetapi lebih dari satu dan menuntut murid membuat ramalan (prediksi), pemecahan masalah, mencari komunikasi. Contoh : apa yang terjadi jika musim kemarau tiba)
e.       Pertanyaan evaluasi (evaluation question) (menghendaki jawaban yang memberikan penilaian atau pendapat thd suatu isu yang ditampilkan. Bagaimana pendapat anda terhadap perkembangan teknologi informasi)

  1. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
1.      Kehangatan dan Keantusiasan
Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Sikap dan car guru termasuk suara, ekspresi wajah, dan posisi badan menampakkan ada-tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.

2.      Kebiasaan yang Perlu Dihindari
a.       Jangan mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak mampu menjawabnya.
b.      Jangan mengulang-ulang jawaban siswa.
c.       Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan untuk menjawabnya.
d.      Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak karena guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab benar dan siapa yang salah serta menutup kemungkinan berinteraksi selanjutnya.
e.       Menentukan siapa siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan akan menyebabkan siswa yang tidak ditunjuk untuk menjawab tidakn memikirkan jawaban pertanyaan.
f.       Pertanyaan ganda.


  1. Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Dasar
1.      Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.
2.      Pemberian acuan
Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
3.      Pemindahan giliran
Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa karena jawaban siswa benar atau belum memadai.
4.      Penyebaran
Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran jawaban pertanyaan secara acak. Ia hendaknya berusaha agar semua siswa mendapat giliran secara merata.
5.      Pemberian waktu berpikir
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu beberapa detik untuk berpikir sebelum menunjukkan salah seorang siswa untuk menjawabnya.
6.      Pemberian tuntunan
Bila siswa tidak menjawab salah atau tidak dapat menjawab, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

  1. Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Lanjutan
Keterampilan bertanya lanjut dibentuk atas dasar penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Oleh sebab itu, komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut.

Adapun komponen-komponennya adalah sebagai berikut:
1.      Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan
2.      Pengaturan urutan pertanyaan
3.      Penggunaan pertanyaan pelacak
4.      Peningkatan terjadinya interaksi


2.      Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.

a.      Tujuan Pemberian Penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
1.      Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
2.      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
3.      Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.

b.      Jenis-jenis Penguatan
1.      Penguatan verbal
Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya, misalnya bagus; bagus sekali; betul; pintar; ya, seratus buat kamu!
2.      Penguatan noverbal

c.       Prinsip Penggunaan Penguatan

1.        Kehangatan dan keantusiasan

2.        Kebermaknaan
3.        Menghindari penggunaan respons yang negatif

d.      Cara Menggunakan Penguatan
1.      Penguatan kepada pribadi tertentu
Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan sebab bila tidak, aka kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
2.      Penguatan kepada kelompok
Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru membolehkan kelas itu bermain bola voli yang menjadi kegemarannya.
3.      Pemberian penguatan dengan segera
Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respons siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya, cenderung kurang efektif.
4.      Variasi dalam penggunaan
Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja karena hal ini menimbulkan kebosanan dan lama-kelamaan akan kurang efektif.

3.      Keterampilan Mengadakan Variasi
a.      Pengertian
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Untuk itu anda sebagai calon guru perlu melatih diri agar menguasai keterampilan tersebut.

b.      Tujuan dan Manfaat
1.      Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar-mengajar yang relevan.
2.      Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal yang baru.
3.      Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
4.      Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.

c.       Prinsip Penggunaan
1.      Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai.
2.      Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.
3.      Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau satuan pelajaran.

d.      Komponen-komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
1.      Variasi dalam cara mengajar guru
a.       Penggunaan variasi suara (teacher voice).
b.      Pemusatan perhatian siswa (focusing)
c.       Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence)
d.      Mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement).
e.       Gerakan badan mimik.
f.       Pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement).
2.      Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran
Media dan alat pengajaran, bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat dan diraba.
Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids).
b.      Variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids)
c.       Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik).
d.      Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, dan diraba (audiovisual aids).
3.      Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
a.       Pola guru-murid:
Komunikasi sebagai aksi (satu arah).
b.      Pola guru-murid-guru:
Ada balikan (feedback) bagi guru, tidak ada interaksi antarsiswa (komunikasi sebagai interaksi).
c.       Pola guru-murid-murid:
Ada balikan bagi guru, siswa saling belajar satu sama lain.
d.      Pola guru-murid, murid-guru, murid-murid:
Interaksi optimal antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid (komunikasi sebagai transaksi, multiarah).
e.       Pola melingkar:
Setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.

4.      Keterampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan keterampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.
a.      Tujuan Memberikan Penjelasan
1.      Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, dalil, fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar.
2.      Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
3.      Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
4.      Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah.
b.      Alasan Perlunya Keterampilan Menjelaskan Dikuasai oleh Guru
1.      Meningkatkan keefektifan pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa karena pada umumnya pembicaraan lebih didominasi oleh guru daripada oleh siswa.
2.      Penjelasan yang diberikan oleh guru kadang-kadang tidak jelas bagi muridnya, tetapi hanya jelas bagi guru sendiri. Hal ini tercermin dalam ucapan guru: “Sudah jelas, bukan?” atau “Dapat dipahami, bukan?” Oleh karena itu, kemampuan mengelola tingkat pemahaman murid sangat penting dalam memberikan penjelasan.
3.      Tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau dari sumber lainnya. Oleh karena itu, guru perlu membantu menjelaskan hal-hal tertentu.
4.      Kurangnya sumber yang tersedia yang dapat dimanfaatkan oleh murid dalam belajar. Guru perlu membantu dengan cara memberikan informasi lisan berupa penjelasan yang cocok dengan materi yang diperlukan.

c.       Komponen-komponen Keterampilan Menjelaskan
1.      Merencanakan
2.      Penyajian suatu penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Kejelasan
b.      Penggunaan contoh dan ilustrasi
c.       Pemberian tekanan
d.      Penggunaan balikan

5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
      Yang dimaksud dengan set induction ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar-mengajar untuk menciptakan prokondisi bagi murid agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Dengan kata lain, kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajarinya.
      Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.

a.      Tujuan Pokok Siasat Membuka Pelajaran
Menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari atau dibicarakan.
            Menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar-mengajar.

b.      Siasat Menutup Pelajaran
Menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar-mengajar. Usaha menutup pelajaran itu dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar.

c.       Komponen Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1.      Membuka pelajaran
Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi:
a.       Menarik perhatian siswa
b.      Menimbulkan motivasi
c.       Memberikan acuan melalui berbagai usaha
d.      Membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman pengetahuan yang telah dikuasai siswa.
2.      Menutup pelajaran
Cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam menutup pelajaran adalah:
a.       Meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
b.      Mengevaluasi.

6.      Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah.
      Pengertian diskusi kelompok dalam kegiatan belajar-mengajar tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas. Siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan guru atau temannya untuk berbagai infromasi, pemecahan masalah, atau pengambilan keputusan. Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana terbuka. Setiap siswa bebas mengemukakan ide-idenya tanpa merasa ada tekanan dari teman atau gurunya, dan setiap siswa harus menaati peraturan yang ditetapkan sebelumnya.
      Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang harus ada dalam proses belajar-mengajar. Akan tetapi, tidak setiap guru dan calon guru mampu membimbing para siswanya untuk berdiskusi tanpa mengalami latihan. Oleh karena itu, keterampilan ini perlu diperhatikan agar para guru dan clon guru mampu melaksanakan tugas ini dengan baik.
a.      Komponen Keterampilan Membimbing Diskusi
1.      Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi
2.      Memperluas masalah atau urunan pendapat
3.      Menganalisis pandangan siswa
4.      Meningkatkan urunan siswa
5.      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
6.      Menutup diskusi
7.      Hal-hal yang harus diperhatikan
·         Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan
·         Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi.
·         Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan.
·         Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi.
·         Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikir siswa.
·         Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

7.      Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
      Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif.

a.      Prinsip Penggunaan
1.      Kehangatan dan keantusiasan
2.      Tantangan
3.      Bervariasi
4.      Keluwesan
5.      Penekanan pada hal-hal yang positif
6.      Penanaman disiplin diri
b.      Komponen Keterampilan
1.      Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
Keterampilan ini berkiatan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut:
a.       Menunjukkan sikap tanggap
b.      Memberi perhatian
c.       Memusatkan perhatian kelompok
d.      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
e.       Menegur
f.       Memberi penguatan
2.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal

c.       Hal-hal yang Harus Dihindari
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut:
1.      Campur tangan yang berlebihan (teachers instruction)
2.      Kelenyapan (fade away)
3.      Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and starts)
4.      Penyimpangan (degression)
5.      Bertele-tele (overdwelling)

8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas, yaitu berkisar antara 3 – 8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Ini tidak berarti bahwa guru hanya menghadapi satu kelompok atau seorang siswa saja sepanjang waktu belajar. Guru menghadapi banyak siswa yang terdiri dari beberapa kelompok yang dapat bertatap muka, baik secara perseorangan maupun secara kelompok.
      Hakikat pengajaran ini adalah:
·         Terjadinya hubungan interpersonal antara guru dengan siswa dan juga siswa dengan siswa.
·         Siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
·         Siswa mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya, dan
·         Siswa dilibatkan dalam perencanaan kegiatan belajar-mengajar.
Peran guru dalam pengajaran ini ialah sebagai:
·         Organisator kegiatan belajar-mengajar,
·         Sumber informasi (nara sumber) bagi siswa,
·         Motivator bagi siswa untuk belajar,
·         Penyedia materi dan kesempatan belajar (fasilitator) bagi siswa,
·         Pembimbing kegiatan belajar siswa (konselor), dan
·         Peserta kegiatan belajar.
Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Adakalanya siswa lebih mudah belajar dari temannya sendiri, ada pula siswa yang lebih mudah belajar karena harus mengajari atau melatih temannya sendiri. Dalam hal ini pengajaran kelompok kecil dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Pengajaran ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif, memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa, serta daapt memenuhi kebutuhan siswa secara optimal.
      Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kombinasi pengajaran klasikal, kelompok kecil, dan perseorangan memberikan peluang yang besar bagi tercapainya tujuan pengajaran. Dengan demikian, penguasaan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan merupakan satu kebutuhan yang esensial bagi setiap calon guru dan guru profesional.


  1. Penggunaan di dalam Kelas
1.      Variasi pengorganisasian
Di bawah ini disajikan berbagai variasi pengorganisasian untuk memberikan kesempatan belajar kepada siswa dalam kelompok kecil maupun perseorangan.











  1. Komponen-komponen Keterampilan
1.      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2.      Keterampilan mengorganisasi
3.      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4.      Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar










0 komentar:

Poskan Komentar